Life goes on
*
Senin.
*
Senin.
Satu kata yang mewakili seluruhnya. Seluruhnya yang
Dev benci.
“Buruan ke bawah, sarapan lo udah siap tuh,”
Beberapa waktu lalu, Senin merupakan hari yang
menyenangkan bagi Dev. Hari dimana ia bisa kembali ke sekolah melihat Bian,
bercanda dan menemui cowok itu.
Sekarang tidak ada lagi hari Senin yang
menyenangkan. Tidak ada kekonyolannya. Tidak ada lagi Bian.
Namun, menurut Dev, patah hati bukan untuk diratapi.
Baginya, ia tak perlu repot-repot mengisi satu hari pun untuk memikirkan apa
yang telah Bian lakukan terhadapnya. Harapan kosong. Ia merasa masih banyak
ikan di lautan sana daripada menghabiskan waktu memikirkan satu ikan yang
bahkan tujuan hatinya pun tidak jelas.
“Iya, Dhil iya,” tukasnya sebagai balasan untuk
Fadhil, adik kandungnya.
Sejak dulu, Dev tidak pernah merasakan jatuh cinta
yang sesungguhnya. Hanya terbesit perasaan nyaman selama berada di sekitar para
kaum Adam. Dev memang sosok yang mudah bergaul dengan banyak cowok karena
menurut Dev, berada di lingkungan kaum Adam lebih hidup dibanding berada di
sekitar kaum sepertinya. Penuh drama, seperti sinetron.
Maka dari itu, Dev lebih terlihat boyish ketimbang girlie. Ngapain repot kalo
pakai kaus sama jeans aja gue nyaman, jawaban untuk semua pertanyaan
mengenai tampilannya.
Dev memutar knop pintu kamarnya dan berlenggang
menuju ruang makan keluarga dimana kedua orang tua dan adiknya telah berada.
“Pagi ma,” ucap Dev sambil mencium pipi kanan juga
kiri mamanya “pagi juga yah,” dan juga ayahnya.
Perbincangan seperti biasa terjadi. Sedikit jenaka,
celaan antara Dev dan Fadhil, dan tertawa. Dev beruntung memiliki orang tua dan
adik seperti mereka. Namun terkadang, mama Dev kuno tentang pergaulan anak muda
zaman kini.
Sarapan yang terjadi di keluarga Shaqiantara
berjalan hangat namun tak berkesan. Itu yang Dev rasakan setiap harinya.
Setelah Devrila menghabiskan sarapannya, gadis itu
pamit kepada ibunya, Annalia Pramesti, dan berangkat ke sekolah bersama ayah
dan adiknya.
Sebenarnya Dev ingin membawa kendaraan sendiri,
namun perjanjian keluarganya baru mengizinkan anak-anak mereka saat Dev dan
Fadhil lulus ujian mengendarai dan mendapat surat izin mengemudi. Itu alasan
mengapa Dev dan Fadhil masih diantar oleh ayahnya.
Tidak jauh dari sekolah Junior National School,
dimana Fadhil menghabiskan delapan jam setiap harinya di sekolah tersebut,
Senior National School terdapat.
Setelah Fadhil Shaqiantara turun dan berpamitan
dengan ayah dan kakaknya, tak lama gantian Dev turun dan berpamitan dengan
ayahnya.
Sesampainya di kelas, Dev disambut oleh Tiara,
teman Dev itu bertanya soal pr sejarah yang diberikan Bu Ana dan sialnya Dev
lupa mengerjakan.
“Liat punya lo dong, Ka,” mintanya kepada Dika.
Cowok itu termasuk ke dalam murid yang rajin namun tak berarti pintar.
Sebenarnya niat Tiara bertanya soal pr sejarah
adalah untuk menyalin pekerjaan Dev, namun sayangnya Dev belum mmengerjakan
barang satu nomor pun.
“Nih,” respon Dika sambil memberikan tugasnya, “oh
iya, ngomong-ngomong lo dipanggil Bu Tri di IPA-II,” dan lanjutnya.
“Ntar aja deh, tugas gue penting,” Dev menunda.
Limabelas menit berlalu, Dev dan Tiara sama-sama
selesai menyalin pekerjaan milik Dika. Tiara berterimakasih sedangkan Dev
berlalu menuju kelas IPA-II. Dimana Bian dan Julian bersarang.
Ketika ingin memasuki kelas IPA-II, Dev bertemu
Bian. Tidak ada efek apapun di perutnya ketika ia tak sengaja menatap mata
cowok itu. Juga saat Bian menyapanya dan dibalas senyum tipis oleh Dev.
“Ibu manggil saya?” tanya Dev sopan ketika ia
sampai tepat di meja guru dimana Bu Tri tengah duduk.
Wanita paruh baya itu menegok dan tersenyum,
“tolong sampaikan kalo ibu gak bisa masuk ke kelas kamu,” Bu Tri membuka tasnya
dan memberikan secarik kertas kepada Dev, “tapi tolong kerjakan soal yang ada
di kertas ini, harus dikumpulkan hari ini juga ya,” lanjut wanita itu.
Harusya ini tugas ketua kelas, bukan Dev. Namun,
Dev lebih dikenal oleh guru-guru ketimbang ketua kelasnya.
Dev mengangguk, “baik, bu.”
Setelah itu, Dev permisi dan kembali ke kelasnya.
Saat ingin berbelok menuju kelasnya, ia berpapasan
dengan Julian. Cowok itu tersenyum dan dibalas oleh Dev.
*
Dev menggeleng ketika Tiara mengajaknya ke kantin
bersama. Gadis itu masih harus menyelesaikan beberapa catatan pelajaran yang
sempat tertinggal karena seminggu yang lalu Dev sibuk berlatih untuk mengikuti
lomba paduan suara mewakili sekolahnya.
“Bener nih?,” tanya Diva dan Dev hanya bergumam, “lo
gamau nitip apaa gitu?”
Dev menghentikan kegiatannya menyalin catatan milik
Dika, ”boleh,” ia justru terlihat sedang berfikir “nasi goreng sama es jeruk
aja kalo gak keberatan,” tanggapan gadis itu sambil mengeluarkan selembar uang,
“ambil aja kembaliannya.”
Tiara menerima uang yang Dev berikan, lalu
tersenyum kecut “cuma seribu rupiah kembali lo, Devrila sialan.”
“Sama-sama, Ra,” Dev membalas disela-sela tawanya.
Tepat saat Dev melirik ke arah pintu kelas, berdiri
cowok yang kemarin meminta nomornya disebuah food court, Julian.
Cowok itu tersenyum, mengisyaratkan Dev untuk
keluar menemuinya.
Dev mengangkat alis kirinya, melirik buku
catatannya yang sudah setengah terisi dan kembali melihat ke arah Julian.
Tatapan cowok itu memelas membuat Dev mau tak mau harus meninggalkan buku
catatan miliknya dan milik Dika.
Dev berjalan ke arah Julian, langkahnya malas. “Ada
apa?” tanya Dev langsung pada intinya.
Cowok itu terlihat salah tingkah, “eh, eum...” Dev
mengerutkan dahi menahan sabar. “..Lagi sibuk ya?” dalam hati, Julian meruntuki
dirinya yang bodoh memilih percakapan. Jelas-jelas dia lagi sibuk banget pas gue
samper, Julian bego, makinya dalam hati.
“Tadi gue lagi fokus nyalin catetan trus lo di
depan pintu kelas gue seakan nyuruh gue menemui lo, jadi?” serang Dev.
Julian merasa tidak enak hati telah mengganggu
kegiatan Dev, “eh, sorry. Gue gatau
kalo lo sesibuk itu,” maaf Julian sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Yaudah lanjutin aja deh,” dan terkekeh.
Dev hanya memutar mata dan berbalik menuju mejanya.
Sejujurnya, Dev bukan tipe gadis cuek seperti ini.
Ia hanya ingin melihat siapa yang berhasil meruntuhkan tembok yang ia buat demi
melindungi hatinya.
Dan sebenarnya, tujuan Julian berada di depan pintu
kelas Dev adalah untuk menawarkan pulang bersama, namun Julian masih kaku akan
hal itu.
*
Dering bel pulang sudah berbunyi beberapa puluh
menit yang lalu, namun Dev masih tetap berada di depan gerbang sekolahnya,
menunggu jemputan seperti biasa. Gadis itu sangat benci menunggu.
“Sumpah, Dev, supir lo masih lama banget apa?” Dan
Tiara. Dev meminta Tiara untuk menemaninya menunggu jemputan. Setidaknya,
menunggu sambil ditemani lebih baik daripada menunggu sendirian.
Dev menghembuskan nafas cepat. Sejak tadi, yang
gadis itu dengar adalah eluhan Tiara tentang berapa lama lagi dirinya dijemput.
“Sabar, Ra. Paling bentar lagi,” ucapnya menahan kesal karena Tiara terus
menerus mengeluh.
“Lagian kan lo udah lancar bawa mobil. Kenapa lo
masih dianter-jemput sih?”
Pertanyaan yang selalu Dev dengar kalau Tiara sudah
bosan menemaninya menunggu. “Kan gue udah berkali-kali bilang; gue belom tujuh
belas tahun dan belom punya sim sendiri. Makanya gak diizinin.”
Sejak awal, Tiara memang selalu membawa mobil
sendiri agar mudah jika ia berpergian. Juga, sejak awal Tiara selalu menawarkan
tumpangan untuk Dev. Tujuannya agar teman Dev itu tidak mati kutu saat
menunggu.
“Lain kali gue males ah nemenin lo nunggu dijemput.
Bosen!” meski begitu, Dev tau bahwa Tiara akan tetap menemaninya, tanpa Dev
minta sekalipun.
Tepat saat Tiara membalikan wajah, mobil jemputan
Dev muncul dari arah gerbang. Membunyikan klakson dan Dev juga Tiara langsung
saja berdiri. Tiara menuju ke arah parkiran, dan Dev mendekati mobil
keluarganya setelah berterimakasih pada sahabatnya.
“Maaf nunggu lama, Non,” supir Dev tersebut merasa
menyesal telah membuat anak majikannya menunggu.
Dev tersenyum, “gapapa, pak. Gak masalah juga kok.”
Selama di perjalann, Dev selalu sibuk dengan
ponselnya. Bertukar pesan dengan Julian. Bahkan sampe larut malam.
*
a/n: Aku minta feedback kalian dong, komen?:-)
So sorry for:
1. Ngebosenin, masih amatir soalnya *peace*
2. Late post, banget
3. Typos xD
4. Dan yang lainnya:)
Komentar
Posting Komentar