Ketika gue dan lo bertemu
*
“Woi, down to
earth, Yan!” cowok itu merasakan tubuhnya terguncang akibat ulah abangnya,
Radit.
Lagi-lagi, Julian tertangkap basah sedang
memperhatikan gadis di seberang mejanya. Gadis dengan balutan croptee bertuliskan band Arctic Monkeys berwarna maroon serta jeans dan sepatu kets. Sederhana, pikir Julian.
Sedari tadi, Julian memang tidak berhenti
memperhatikan gadis itu. Dan abang juga sepupunya menyadari akan hal itu.
“Apaan sih, lo, bang” sanggah Julian. Merasa malu
dirinya tertangkap sedang memperhatikan Dev.
Radit, Feby dan Varo tertawa. Baru kali ini mereka
melihat tingkah jangal dari sepupunya, Julian. Sebelumnya, mereka tidak pernah
melihat Julian menatap seorang gadis seperti saat ini. Dan lagi, sambil
tersenyum.
“Deketin dia kalo lo suka,” Julian menatap Radit
penuh pertanyaan, “keburu di deketin orang, Yan. Gue gak mau liat adek gue
patah hati cuma gara-gara telat bertindak.”
Mata julian membelalak, “gue gak suka, Bang! Emang
salah kalo gue cuma ngeliatin doang?” sanggah Julian.
Abang Julian itu tidak membalas sanggahan adiknya,
justru ia menunjuk Dev dengan dagunya bertanda Julian untuk menghampirinya.
“Liat muka lo, Yan, merah kayak pantat monyet!”
Varo tertawa semakin keras, juga Radit dan Feby.
Raditya Vimana, Julian Vimana, Febrian Santoso dan
Divaro Pratama adalah sepupu dari kakek mereka. Ibu Feby adalah kakak dari ayah
Julian dan Raditya. Dan ayah Varo adalah bungsu.
Mereka sering menghabiskan waktu bersama ketika
mereka saling meiliki waktu kosong seperti saat ini. Karena kekonyolan dan
keterbukaan mereka yang membuat Julian, Radit, Feby dan Varo merasa seperti
sahabat.
Julian berdiri sambil berkata, “berisik!” lalu
berjalan meninggalkan ketiga temannya. Arah Julian terlihat pasti. Menuju meja
Dev dan temannya.
Melihat hal itu, Feby adalah orang yang menertawakan
tingkah Julian paling keras.
“Hei,” ucap Julian, “boleh gue duduk?” lanjutnya
menunjuk kursi yang Dev duduki.
-
Wajah Julian berseri-seri ketika cowok itu sampai
di rumahnya. Sebenarnya, wajah Julian sudah berseri sejak ia mendapatkan kontak
gadis itu di food court tadi.
Teringat akan hal itu, Julian segera mengeluarkan
ponselnya dan mencari kontak Dev di phonebooknya.
Julian mengetikkan pesan untuk Dev berulang-ulang.
Cowok itu merasa kurang pas dengan isi pesan yang akan dikirimnya lalu
menghapus pesan tersebut. Ia mengetik lagi, dan menghapusnya lagi. Berulang
kali Julian melakukan hal itu karena gugup.
Padahal baru
lewat sms aja gue udah gugup, eluh Julian pada dirinya sendiri.
Setelah berkali-kali kegiatan ketik-hapus pesan
dilakukan Julian, akhirnya ia berhasil mengirim ‘Hi :)’ pada Dev.
Tak lama, ponselnya bersuara. Buru-buru ia melihat
apa yang membuat ponselnya berdering. Oh,
dari para curut, cowok itu merasa sedikit kecewa melihat ponselnya berdering
karena multichat dari ketiga
temannya. Padahal, ia sangat berharap Dev-lah yang membuat suara di ponselnya
barusan.
Feby: Gue belom puas makannya tadi
Varo: Radit ngajak pulang buru-buru
Feby: Parah lo, Dit
Radit: Apa lagi sih salah hayati?
Julian: Gue abis ngirim pesan buat Dev
Julian: Sekarang gue deg-degan nunggu balesannya
Varo: Baru kali ini gue ngeliat lo begini
Radit: Biasanya adek gue ini cuma iseng kalo
deketin cewek
Feby: Wah, jangan-jangan lo deketin Dev cuma iseng
doang lagi, Yan
Julian: Eh, asal banget omongan lo, Feb
Julian: Sms gue dibales gak ya
Julian: Kok lama banget
Radit: Gue gatau
Varo: Gue gatau (2)
Feby: Gue gatau (3)
Julian: Gue gatau (4)
Feby: Kok lo bego, Yan?
Radit: Iya, Yan
Varo: Iya, Yan (2)
Julian: *Just
read*
Bosen,
pikir Julian.
Ia melempar ponselnya ke atas tempat tidur dan
keluar dari kamar mencari sesuatu yang bisa ia makan karena mulutnya merasa
ingin mengerjakan sesuatu, ngemil.
Julian menemukan pancakes blueberry yang
kakaknya buat tadi siang. Tanpa pikir panjang, Julian segera mengambil sapiring
pancakes itu dan membawanya menuju
kamar.
Sesampainya di kamar, ia meletakkan pancakes itu di samping nakas tempat
tidurnya dan melihat ponsel yang sempat ia tinggal sebentar.
Satu pesan terdapat di ponsel Julian, dari Dev, seru cowok itu senang.
Julian sendiri sebenarnya tidak mengerti apa yang
terjadi pada dirinya. Yang ia rasakan adalah matanya tidak mau berpaling ketika ia melihat Dev.
Kakinya enggan untuk berpindah ketika matanya sudah menemukan sesosok Dev. Dan
hatinya, entah mengapa berdetak berkali-kali lebih cepat dari biasanya.
Obrolan mereka melalui sms diakhiri Dev karena Dev
bilang ia mengantuk.
Julian: Yaudah, good
night Dev :)
Dev: Night2
-
Tubuhnya terasa sangat lelah karena seharian ini
Dev menemani temannya yang gila belanja itu, Cyntiara Ginanjar seharian.
Bahkan, ia sampai lupa soal cowok yang menghampiri mejanya saat di food court tadi.
Dev mendengar ponselnya berdering di atas meja
belajarnya. Namun ia terlalu lelah hingga membiarkan hal yang membuat ponselnya
berdering itu menunggu.
Ketika ia sendiri, pikirannya melayang pada
beberapa minggu lalu ketika ia masih menerima pesan dari Bian di ponselnya. Dev
kangen masa-masa kedekatannya.
Setelah Dev merebahkan tubuh lelahnya, kini ia
bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh lelahnya. Barulah setelah
mandi Dev mengecek ponselnya.
Unknown numb: Hi :)
Merasa asing, Dev membalas pesan tadi dengan
bertanya ‘siapa?’
Tak lama, ponselnya berdering lagi menampilkan
balasan dari nomor tak dikenal tadi. Oh,
cowok yang dipanggil Yan-Yan di Mc.D tadi namanya Julian, dalam hati Dev
setelah ia membaca balasan dari Julian.
Tidak banyak yang dibicarakan Dev dan Julian
melalui sms. Hanya sebentar lalu Dev merasa mengantuk. Julian mengucapkan good night setelah balasan Dev yang
mengatakan dirinya ingin istirahat.
Dev: Night2
Dan setelah itu, Dev tertidur.
*
Sorry everyone for;
1. Ngebosenin, masih amatir soalnya *peace*
2. Late post
3. Typos xD
4. Dan yang lainnya:)
Komentar
Posting Komentar