Langsung ke konten utama

S T U C K - #2

Ketika gue dan lo bertemu


*
“Woi, down to earth, Yan!” cowok itu merasakan tubuhnya terguncang akibat ulah abangnya, Radit.

Lagi-lagi, Julian tertangkap basah sedang memperhatikan gadis di seberang mejanya. Gadis dengan balutan croptee bertuliskan band Arctic Monkeys berwarna maroon serta jeans dan sepatu kets. Sederhana, pikir Julian.

Sedari tadi, Julian memang tidak berhenti memperhatikan gadis itu. Dan abang juga sepupunya menyadari akan hal itu.

“Apaan sih, lo, bang” sanggah Julian. Merasa malu dirinya tertangkap sedang memperhatikan Dev.

Radit, Feby dan Varo tertawa. Baru kali ini mereka melihat tingkah jangal dari sepupunya, Julian. Sebelumnya, mereka tidak pernah melihat Julian menatap seorang gadis seperti saat ini. Dan lagi, sambil tersenyum.

“Deketin dia kalo lo suka,” Julian menatap Radit penuh pertanyaan, “keburu di deketin orang, Yan. Gue gak mau liat adek gue patah hati cuma gara-gara telat bertindak.”

Mata julian membelalak, “gue gak suka, Bang! Emang salah kalo gue cuma ngeliatin doang?” sanggah Julian.

Abang Julian itu tidak membalas sanggahan adiknya, justru ia menunjuk Dev dengan dagunya bertanda Julian untuk menghampirinya.

“Liat muka lo, Yan, merah kayak pantat monyet!” Varo tertawa semakin keras, juga Radit dan Feby.

Raditya Vimana, Julian Vimana, Febrian Santoso dan Divaro Pratama adalah sepupu dari kakek mereka. Ibu Feby adalah kakak dari ayah Julian dan Raditya. Dan ayah Varo adalah bungsu.

Mereka sering menghabiskan waktu bersama ketika mereka saling meiliki waktu kosong seperti saat ini. Karena kekonyolan dan keterbukaan mereka yang membuat Julian, Radit, Feby dan Varo merasa seperti sahabat.

Julian berdiri sambil berkata, “berisik!” lalu berjalan meninggalkan ketiga temannya. Arah Julian terlihat pasti. Menuju meja Dev dan temannya.

Melihat hal itu, Feby adalah orang yang menertawakan tingkah Julian paling keras.

“Hei,” ucap Julian, “boleh gue duduk?” lanjutnya menunjuk kursi yang Dev duduki.
-

Wajah Julian berseri-seri ketika cowok itu sampai di rumahnya. Sebenarnya, wajah Julian sudah berseri sejak ia mendapatkan kontak gadis itu di food court tadi.

Teringat akan hal itu, Julian segera mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Dev di phonebooknya.

Julian mengetikkan pesan untuk Dev berulang-ulang. Cowok itu merasa kurang pas dengan isi pesan yang akan dikirimnya lalu menghapus pesan tersebut. Ia mengetik lagi, dan menghapusnya lagi. Berulang kali Julian melakukan hal itu karena gugup.

Padahal baru lewat sms aja gue udah gugup, eluh Julian pada dirinya sendiri.

Setelah berkali-kali kegiatan ketik-hapus pesan dilakukan Julian, akhirnya ia berhasil mengirim ‘Hi :)’ pada Dev.

Tak lama, ponselnya bersuara. Buru-buru ia melihat apa yang membuat ponselnya berdering. Oh, dari para curut, cowok itu merasa sedikit kecewa melihat ponselnya berdering karena multichat dari ketiga temannya. Padahal, ia sangat berharap Dev-lah yang membuat suara di ponselnya barusan.

Feby: Gue belom puas makannya tadi

Varo: Radit ngajak pulang buru-buru

Feby: Parah lo, Dit

Radit: Apa lagi sih salah hayati?

Julian: Gue abis ngirim pesan buat Dev

Julian: Sekarang gue deg-degan nunggu balesannya

Varo: Baru kali ini gue ngeliat lo begini

Radit: Biasanya adek gue ini cuma iseng kalo deketin cewek

Feby: Wah, jangan-jangan lo deketin Dev cuma iseng doang lagi, Yan

Julian: Eh, asal banget omongan lo, Feb

Julian: Sms gue dibales gak ya

Julian: Kok lama banget

Radit: Gue gatau

Varo: Gue gatau (2)

Feby: Gue gatau (3)

Julian: Gue gatau (4)

Feby: Kok lo bego, Yan?

Radit: Iya, Yan

Varo: Iya, Yan (2)

Julian: *Just read*


Bosen, pikir Julian.

Ia melempar ponselnya ke atas tempat tidur dan keluar dari kamar mencari sesuatu yang bisa ia makan karena mulutnya merasa ingin mengerjakan sesuatu, ngemil.

Julian menemukan pancakes blueberry yang kakaknya buat tadi siang. Tanpa pikir panjang, Julian segera mengambil sapiring pancakes itu dan membawanya menuju kamar.

Sesampainya di kamar, ia meletakkan pancakes itu di samping nakas tempat tidurnya dan melihat ponsel yang sempat ia tinggal sebentar.

Satu pesan terdapat di ponsel Julian, dari Dev, seru cowok itu senang.

Julian sendiri sebenarnya tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Yang ia rasakan adalah matanya  tidak mau berpaling ketika ia melihat Dev. Kakinya enggan untuk berpindah ketika matanya sudah menemukan sesosok Dev. Dan hatinya, entah mengapa berdetak berkali-kali lebih cepat dari biasanya.

Obrolan mereka melalui sms diakhiri Dev karena Dev bilang ia mengantuk.

Julian: Yaudah, good night Dev :)

Dev: Night2
-


Tubuhnya terasa sangat lelah karena seharian ini Dev menemani temannya yang gila belanja itu, Cyntiara Ginanjar seharian. Bahkan, ia sampai lupa soal cowok yang menghampiri mejanya saat di food court tadi.

Dev mendengar ponselnya berdering di atas meja belajarnya. Namun ia terlalu lelah hingga membiarkan hal yang membuat ponselnya berdering itu menunggu.

Ketika ia sendiri, pikirannya melayang pada beberapa minggu lalu ketika ia masih menerima pesan dari Bian di ponselnya. Dev kangen masa-masa kedekatannya.

Setelah Dev merebahkan tubuh lelahnya, kini ia bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh lelahnya. Barulah setelah mandi Dev mengecek ponselnya.

Unknown numb: Hi :)

Merasa asing, Dev membalas pesan tadi dengan bertanya ‘siapa?’

Tak lama, ponselnya berdering lagi menampilkan balasan dari nomor tak dikenal tadi. Oh, cowok yang dipanggil Yan-Yan di Mc.D tadi namanya Julian, dalam hati Dev setelah ia membaca balasan dari Julian.

Tidak banyak yang dibicarakan Dev dan Julian melalui sms. Hanya sebentar lalu Dev merasa mengantuk. Julian mengucapkan good night setelah balasan Dev yang mengatakan dirinya ingin istirahat.

Dev: Night2


Dan setelah itu, Dev tertidur.


*

Sorry everyone for;

1. Ngebosenin, masih amatir soalnya *peace*

2. Late post

3. Typos xD

4. Dan yang lainnya:)

Komentar