Langsung ke konten utama

S T U C K - #1

Kalo Jodoh, Kita Dipastikan Bertemu di Chapter Satu


Pagi yang cerah seperti saat ini seharusnya sayang untuk dilewatkan. Namun, Devrila tetaplah Devrila. Gadis itu paling malas jika ia harus bangun di pagi hari saat sekolah libur.

Seperti biasa, Devrila Shaqiar, pemalas yang akrab dipanggil Dev itu masih saja bergelut dengan bantal dan selimutnya. Padahal, hari ini dia tau temannya akan datang.

Berhubung Dev sudah berjanji akan menemani temannya memanjakan mata dua hari yang lalu, ia sengaja membuat alarm di ponselnya satu jam lebih awal dari waktu yang ditentukan.

Masih jam segini, dikit lagi kan gapapa, tabiat gadis itu sesaat setelah ia mematikan alarm yang menurutnya mengganggu tidurnya pagi ini. Padahal, pukul sepuluh nanti, Dev tau temannya itu akan datang dan memarahinya jika Dev masih tetap bergelut di tempat tidurnya.

Tepat saat Dev menarik kembali selimutnya, teriakan yang Dev hindari sejak ia mematikan alarm, terdengar di seantero rumahnya.

“DEVRILAAA, LO UDAH BANGUN KAN? GUE HARAP IYA KARENA GUE GAK SABAR BUAT NUNGGU” ah, ini dia, erang Dev dalam hati mendengar suara temannya, Tiara, di rumahnya, tapi siapa peduli, lanjut batin si pemalas.

“Dev, astaga mood gue turun drastis pas masuk kamar lo dan menemukan binatang pemalas masih terlelap. Macam lo,” Dev merasakan seseorang menekan bagian sisi tempat tidurnya seperti mendudukinya. “Bangun, Dev!” dan kali ini Dev merasakan tubuhnya terguncang karena ulah Tiara.

“Iyaa, Ra, binatang purba kayak lo harusnya diawetin. Gak dibiarin bebas begini,” Dev mengubah posisi tidurnya menjadi duduk, “lo tuh berisik banget sih, Ra. Masih pagi, gak enak di denger tetangga”

Tiara membelalakkan matanya dan menghela nafas setelah itu, “salah lo. Kan janjinya jam sepuluh. Sekarang liat udah jam berapa?” Ucap Tiara sambil memperlihatkan jam di ponselnya.

“Jam sepuluh lewat limabelas,” jawab Dev singkat.

Tiara memutar bola matanya, lalu menghela nafas, lelah. “Harusnya kita udah di jalan untuk memanjakan mata,” lagi, Tiara menghela nafas.

Dev menggigit bibir bawahnya, menahan diri agar tawanya tidak berderai melihat wajah memelas temannya.

Setelah Dev bisa menguasai diri, ia berkata dengan tenang, “dan harusnya gue bawain kaca biar lo liat seberapa kocaknya muka lo tadi,” Dev bangkit dari tempat tidur ternyamannya sambil terkekeh, berjalan menuju kamar mandi.

“Lo tuh ya, nyebelin sampe  ke akar-akar!” Tiara mendengus sebal sambil melempar bantal terdekatnya ke pintu kamar mandi Dev.

Tawa Dev pecah di dalam kamar mandi.

*


Dev tidak kuat lagi, yang dia butuhkan adalah food court agar ia bisa mengisi permintaan perutnya. Juga, ia membutuhkan tempat untuk mengistirahatkan kakinya yang dipaksa menemani Tiara sejak tiga jam lalu tanpa henti mengelilingi pusat perbelanjaan ini.

“Ra, gue capek,” deru nafas Dev tidak teratur saat gadis itu dan temannya berada tepat di depan sebuah food court, Mc.D, “gue laper, mau makan. Gue butuh duduk, gue kasian sama kaki indah gue.”

Dev segera menarik lengan temannya menuju Mc.D agar Tiara bisa benar-benar menuruti keluhannya sejak tadi.

“Aduh, iya Dev, iya. Pelan-pelan dong, tangan gue kan penuh,” responnya kelelahan. Tangan kiri Tiara terdapat empat atau lima kantung belanjaan sedangkan tangan kanannya mengenggam lima atau bahkan tujuh.

Dev memutar bola matanya, terlanjur kelelahkan. “Biar gue yang mesen, lo duduk aja,” tawar Dev, baik hati.

Senyum Tiara sumringah, “its true, Dev, you’re the best!”

“Iya gue tau, Ra, gue tau,” jawab Dev sambil berlalu memesan makan siang yang terlanjur tertunda.
                -

“Lo bukan Tiara kalo lagi belanja,” ucap Dev setelah ia meletakkan pesanan miliknya dan Tiara, “gila bener.”

Pernyatan Dev barusan adalah benar. Tiara Gheanova bukanlah dirinya jika sudah berada di dalam pusat perbelanjaan. Tiara rela menghabiskan jatah uang sakunya selama setahun itu hanya untuk berbelanja gila, seperti sekarang.

Padahal, beberapa minggu yang lalu, aktifitas seperti ini telah dilakukan mereka berdua. Tepatnya Tiara.

Dev bukanlah seorang gadis yang terlalu gila belanja. Biasanya ia akan lebih memilih menggunakan uangnya untuk membeli cemilan, terutama es krim.

Jeleknya, ketika Dev ingin membeli suatu barang yang telah lama ia incar, Dev justru membanting stir menuju barang lain yang menarik perhatiannya ketika Dev melihat barang itu. Akibatnya, barang yang lama ia incar, gagal terbeli. Selanjutnya, Dev akan cepat bosan dengan barang yang ia beli secara tiba-tiba itu.

Tiara terkekeh, “berapa lama sih lo kenal gue, Devrila? Mata gue tuh selalu lapar oleh barang-barang mall,” Tiara meminum Colanya ketika suapan terakhir telah ia habiskan.

Dev tau betul akan hal itu. Namun, tetap saja, enam kantung belanja milik Tiara yang dibelinya beberapa minggu lalu hanya akan memenuhinya ruang di kamarnya. Seperti tas YSL-nya yang ia beli Juli lalu, berakhir mengenaskan di lemari kamarnya dengan mereka barang-barang yang sampai sekarang masih menunggu untuk digunakan.

“Mending uangnya lo tabung buat masa depan lo, Ra,” Dev menasehati.

Sedangkan yang dinasehati mendengus, “Ohiya, Dev, gimana lo sama cowok kelas sebelah itu?”

Devrila sadar temannya sedang mengalihkan pembicaraan tentang kebiasaannya berbelanja itu.

“Gak gimana-gimana. Dia gak serius, cuma ngasih gue harapan kosong doang. Males kalo diinget-inget soal dia,” jawab Dev menanggapi.

Cowok itu Bian, anak kelas IPA-II.

Dulu, Bian pernah mendekati Dev, memberi sinyal-sinyal juga tingkah yang semua orang bisa lihat bahwa Bian suka Dev. Tapi, kedekatannya hanya bertahan dua bulan. Bian tidak lagi menyapa Dev duluan. Baik itu di pesan singkat maupun saat bertemu langsung.

Sebagai cewek, Dev paling anti menyapa duluan, apalagi menyangkut seorang cowok. Kecuali status mereka resmi berpacaran.

Tidak hanya Dev, sebagian besar gadis yang ada di belahan dunia lebih memilih untuk disapa dibanding menyapa. Karena ia akan merasa dibutuhkan saat disapa. Itu sebabnya kaum Hawa lebih suka memendam, termasuk Dev.

“Gila ya, abis diterbangin gini Bian malah jatohin lo. Udah gitu sekarang lo sama dia malah berlagak kayak orang gak kenal. Padahal dulu sama-sama bisa bikin senyum satu sama lain terbentuk. Dunia aneh,” Dev mengulang kata-kata Tiara barusan.

“Udahlah, Ra, gue gak mau ngebahas soal gituan. Lagian move on gue juga udah mau berhasil,” peringat Dev.

Tiara mencondongkan tubuhnya yang terbalut kemeja chiffon bermotif bunga dengan paduan skirt berwarna hitam selutut, “lo liat cowok yang duduk tepat di belakang lo,”

Dev memutar kepalanya untuk melihat cowok yang Tiara maksud. Alis kiri Dev terangkat seolah bertanya kenapa setelah berbalik menatap wajah temannya.

“Gue perhatiin dari lo narik gue di depan food court tadi sampe masuk dan makan kayak sekarang, tuh cowok gak berhanti ngeliatin lo mulu,” Dev hanya mendelikkan bahu acuh.

Patah hati Dev dari Bian belum sepenuhnya hilang, Dev merasa sedikit tidak peduli dengan jatuh cinta.

“Pst, Dev,” Tiara melirik ke belakang, lalu lanjut berkata “cowok itu berjalan ke arah meja kita!” dengan gigi dikatupkan.

“Paling dia mau ke arah mana, gitu,” ucap Dev setelah mencuri kentang goreng milik temannya, “dia gak mungkin ke sin-”

“Hei,” ucap cowok yang Tiara maksud, “boleh gue duduk?” lanjutnya menunjuk kursi yang Dev duduki.

Dev menggeser tubuhnya untuk pindah ke kursi yang satu lagi agar cowok itu bisa duduk.

Kening Tiara mengkerut, “kok muka lo gak asing-asing banget ya,” Tiara meletakkan jari telunjuknya di dagu munggilnya tanda ia sedang berfikir.

Spontan, Dev memalingkan wajahnya. Gadis itu menatap cowok yang Tiara bilang tidak-asing lekat-lekat.

Merasa tidak nyaman ditatap oleh Dev seperti itu, ia mengibaskan tangannya di depan wajahnya sambil tertawa canggung. “Gue satu sekolah sama lo, di Junior National School,” kali ini tersenyum senang.

“Tapi kok gue gak pernah ngeliat lo?” tanya Dev jujur.

Beda dengan Tiara. Gadis yang satu itu justru membelalakan matanya, lalu berkata, “pantes muka lo gak asing gue liat-liat,” Tiara baru sadar, dan melanjutkan perkataannya, “kelas berapa?”

Cowok itu tersenyum, lagi, “IPA-II,”

Tiara sadar kalau IPA-II adalah kelas Bian, ia menatap Dev. Sedangkan yang ditatap hanya menghela nafas lalu menunduk.

“YAN, AYO!”

Sadar cowok dari kelas Bian itu dipanggil, ia segera mengangkat kelima jari kanannya sebagai tanda ia meminta lima menit lagi kepada cowok yang memanggilnya tadi.

Cowok itu menatap Dev, sedangkan Dev yang ditatap, hanya mengangkat alisnya.

“Boleh gue simpen nomor lo?” cowok itu bertanya to the point.

“Buat?” Tiara merasa tersingkirkan dalam obrolan ini, gadis itu segera pamit untuk memesan kentang gorang yang tadi Dev habiskan.

Cowok itu tersenyum, “biar bisa lebih deket,” jawabnya pasti. “Boleh kan? Gue gak bakal macem-macem kok.”

Entah apa yang merasuki pikiran Dev saat ini sampai gadis itu memberikan nomor ponselnya kepada cowok yang ada di hadapannya.

Cowok itu pamit dengan sopan ketika Dev mengembalikan ponsel miliknya.

Jujur saja, Dev merasa patah hatinya akan hilang secara perlahan ketika ia menatap mata teduh cowok itu.


*

Sorry everyone for;

1. Ngebosenin, masih amatir soalnya *peace*

2. Late post, lagi ukk *hiks

3. Typos xD

4. Dan yang lainnya:)

Komentar